5 Alasan Pendidikan +62 Sulit Maju




Salam pengetahuan untuk kita!

Untuk pertamanya kali saya menulis di sini, dan perkenankan saya mengusung topik pengajaran (karena basicku keguruan). Buatku ini penting dibicarakan, ingat kita setiap harinya mengeyam pengajaran mulai dari PlayGroup,TK-Kuliah sampai S2-Prof . Sehingga masalah pengajaran menurutku tidak cuma masalah sekolah kembali, tapi masalah kita "yang perduli".

Oke silahkan kita awali dengan sebuah judul..

[TAMPARAN PENDIDIKAN]

Disclaimer : Semua tulisan ialah pendapat individu saya, tidak mutlak betul. Bila tidak sepakat, acuhkan + meninggalkan. Bila sepakat, memiliki arti punyai kecocokan pengalaman.

Pengajaran itu titik AWAL perkembangan satu bangsa, silakan saksikan riwayat jepang bila tidak yakin jika titik 0 mereka bangun (sesudah dibom perang dunia 2) diawali dari pengajaran, mereka kumpulkan dan memuliakan pekerjaan guru,

Karena apa?

Karena mereka mengetahui jika guru ialah garda paling depan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa (Kaisar Hirohito pasti sudah menunjukkan ini).

Karena itu, guru baiknya ialah beberapa orang yang CERDAS (pintar emosional, cendekiawan, dan moral), mempunyai PASSION mengajarkan, dan DIGAJI PANTAS.

Kenapa harus dibayar patut ?

supaya mereka TAK PERLU pikirkan bagaimana cari uang tambahan di luar sekolah (nge-g*j*k misalnya), dan FOKUS mengurus siswa-murid mereka sampai siswanya capai perform TERBAIKNYA.

Lalu,

BAGAIMANA PENDIDIKAN AKAN MAJU bila Beberapa guru diisikan oleh mereka yang gabut ambil Sarjana Keguruan (karena tak ada alternatif lain) ?

BAGAIMANA JIKA MEREKA tidak mempunyai spirit mengajarkan, justru passionnya membantai (sikit-sikit memberi hukuman, ditanyakan pelajar justru geram-marah, baperan dan tidak pedulian) ?

Okelah, Silahkan kita HUSNUDZON sesaat... Beberapa guru kita BUKAN ke-2 kelompok yang disebutkan, mereka ialah beberapa orang CERDAS, TERDIDIK, dan benar-benar PANDAI MENGAJAR (karena 4-5 tahun kuliah, pasti lama + turut program PPG atau sejenisnya kembali).

Tetapi, apa mereka memperoleh upah yang PANTAS untuk pekerjaan berat yakni mencerdaskan OTAK dan AKHLAK pelajar ? sudah pasti tidak,

Berikut AWAL persoalan...

AWAL persoalan berawal dari tiadanya uang.

UANG memanglah bukan segala hal, tetapi segala hal perlu uang ! make a sense ?

Pasti TIDAK MUNAFIK bukan, mereka BUTUH cukup uang untuk penghidupan,KAN?

Contoh kecil saja, yakni MAKAN.

Makan itu KEBUTUHAN biologis fundamental (utama), gak dapat ditolerir bila untuk makan saja upah mereka TAK TERCUKUPI.. kabarnya kembali telah memiliki keluarga. Karena itu MARI REALISTIS saja...

Simpelnya begini saja :

1. Sebagai pengurus sekolah, harus menyejahterakan guru. (gajilah semestinya, gajilah sampai dia tidak pikirkan mencari uang masuk dari sekolah lain)

2. Sebagai guru, harus mencerdaskan pelajar. (guru jangan stop belajar / berasa pandai / berasa berkuasa, agar lebih pintar dari siswanya minimum, dan dapat mentransfer ilmunya secara baik / tidak pandai sendiri saja)

Tambahan :

3. Sebagai pelajar, harus tahu diri ! gurumu dan sekolahmu telah berusaha susah payah menuntunmu. Lah cocok dijatuhi hukuman sedikit justru ngelapor pada orang tua, dan prihatinnya orang tuanya justru bela kekeliruannya karena dia anaknya ? seegois itu ? karena hanya dia anakmu, karena itu dia jangan dijatuhi hukuman atas ketidaktahuan dan kebobrokan adabnya ? mari sadarlah pelajar ! gurumu benar-benar sehat, mustahil dia memberi hukuman tanpa ada alasan. titik.

4. Jadi orang tua, harus memiliki sifat obyektif. Bila anak salah, karena itu salahkan anaknya dan bukan gurunya ! tidak boleh dibela, hukum kembali agar perlu. Agar moralnya bukan psikis pengecut, dan pahami yang mana salah yang mana betul. Bila tidak yakin dengan didikan guru (karena ada hukuman), karena itu jadilah gurunya sendiri, tidak perlu sekolahkan.. kerjakan home schooling (jalan keluar). Jika sudah disekolahkan, karena itu harus yakin seutuhnya jika sekolah dan guru tak pernah punya niat sedikitpun menganiaya atau memperbodoh anak, terkecuali gurunya baru keluar dari RSJ atau punyai masalah jiwa (ex : psikopat). titik.

5. Sebagai pemerintahan, tentu sudah mengetahui tujuan Saya, hehe 🙂

Silahkan kita selesaikan keluhan ini, cukup menampar bukan ?

ya Saya harus menamparkan diri untuk dapat menulis ini.

Karena itu kita selesaikan saja... tidak akan ada selesainya bila berkeluh-kesah.

Silahkan bersama raih harapan dengan doa dan usaha... mudah-mudahan harapan "mencerdaskan kehidupan bangsa" bukan bualan semata-mata, tetapi tindakan riil dari semua susunan warga baik masyarakat atau pemerintahan, hingga tidak ada kembali sama-sama mempersalahkan.. tetapi sama-sama kerjasama untuk menguatkan proses pengajaran.

Oke demikian. Mudah-mudahan sudi. 🙂

Catatan : Bila tidak sudi, Saya minta dimaafkan. Bila ingin berganti pemikiran, silakan tanggapan-kan, dan kita bahas. Tanggapan subyektif (nyerang individu) akan dimaafkan + diacuhkan, berkomentarlah secara obyektif. (berdasarkan permasalahan + argumentatif)

Last but not least :

Terima kasih, dan hormat Saya ke semua beberapa guru Saya yang sudah mendidik Saya sampai pada akhirnya Sayapun bisa rasakan mendidik pelajar. (dididik-terdidik-mendidik)

Wassalam...

Fyi : Ini bukanlah puisi ! Dan sudah dimuat di facebook penulis dan beberapa group keguruan indonesia pada tanggal 2 MEI 2021 jam 04:55 WIB (95% tanggapan sama pendapat, 5% abu-abu).

Silahkan dialog... Pasti Saya akan mengucapkan terima kasih... karena dialog, mermperluas cakrawala berpikiran (w4w4s5nku lu45 b4ng3t)



Sumber : Fb

Belum ada Komentar untuk "5 Alasan Pendidikan +62 Sulit Maju"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel