Menjelang Sekolah Buka, Inilah Yang Paling Kita Butuhkan

Menjelang Sekolah Buka, Inilah Yang Paling Kita Butuhkan


Tentang sekolah tahun 2021, para pendidik terbelah menjadi dua. Pertama, mereka yang ingin membawa kembali murid-murid ke gedung sekolah untuk menghentikan dampak learning loss. Kedua, mereka yang tetap memilih Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dengan memperbaiki dan menyempurnakan metodenya. Termasuk dalam golongan kedua adalah mereka yang menginginkan hybrid learning atau blended learning.

Jika kita menelusuri lebih jauh, maka keterbelahan sikap di atas sangat terkait dengan fasilitas belajar atau akses pendidikan. Mereka yang memiliki akses memadai terhadap PJJ, maka para pendidiknya merasa tertantang untuk melanjutkan PJJ dengan menyempurnakan metode belajar yan tepat untuk PJJ. Sebaliknya, mereka yang minim fasilitas sangat mendambakan belajar tatap muka.

Kedua-duanya berisiko.

Sejak pandemi ini terjadi, semua murid di seluruh dunia mengalami learning loss atau kehilangan masa belajar. Sederhananya, ada akibat kehilangan waktu belajar secara total atau putus sekolah, ada juga yang hanya mengalami kehilangan kemampuan belajar saat PJJ ini.

Selanjutnya, mohon maaf jika tulisan ini menggunakan data di negara lain, yakni Amerika Serikat, untuk menganalisis kondisi ini. Data penelitian di Indonesia tentang efektifitas PJJ satu semester ini belum ketemu sehingga harus menggunakan data yang ada.

Sebagaimana dimuat di www.mckinsey.com tanggal 8 Desember, Curriculum Associates i-Ready merilis sebuah analisis tentang nilai ujian terakhir di masa PJJ. Di Indonesia kita sebut Penilaian Akhir Semester (PAS).

Penelitian tersebut menyoroti hasil belajar murid kulit putih dan kulit berwarna. Jika kita melihatnya secara netral, maka kita bisa membacanya sebagai hasil belajar murid yang memiliki fasilitas memadai untuk PJJ dan mereka yang kurang memadai.

Laporan tersebut menuliskan bahwa murid kulit putih hanya mampu menyerap materi sebesar 67% untuk matematika, sedang siswa kulit berwarna hanya 59%. Jadi, jika kita ukur dari awal tahun pelajaran maka waktu total adalah enam bulan. Kemampuan menyerap hanya 59%, berarti para murid hanya belajar selama tiga bulan.

Itu adalah kondisi di beberapa bagian wilayah di Amerika, yang tentu tidak bisa mewakili keseluruhannya.

Sekarang, bagaimana di Indonesia? Karena belum ada data yang memadai, maka tengoklah masyarakat sekitarmu, amati murid-muridmu, dan berbicaralah dengan rekan-rekan guru dari mana saja untuk mendapatkan informasi tentang efektivitas PJJ ini.

Jika sudah mendapatkan datanya, berbagilah dengan kami tentang info tersebut!

Semua pihak sudah melakukan banyak hal. Mulai dari pelonggaran kurikulum, penyusunan kurikulum darurat, hingga penyediaan kuota internet. Belum lagi, upaya-upaya guru dalam beradaptasi dengan kondisi ini. Kita harus mengapresiasi semua usaha ini.

Setelah menyimak obrolan para guru di media sosial, obrolan dengan rekan-rekan guru secara langsung, dan obrolan warung kopi dengan para orangtua, maka jangan-jangan inilah yang paling kita butuhkan menjelang sekolah buka.

Yakni MOTIVASI. Ya, kekuatan untuk minimal kembali seperti semula dan kekuatan untuk menjalani kebiasaan baru. Sungguh tidak mudah mengubah kebiasaan yang sudah kita lakukan selama sembilan bulan ini.

Mari kita lihat fakta-fakta berikut:

Fakta tentang murid:


Tidak belajar sama sekali karena membantu orangtua bekerja. Setiap hari sudah merasa asyik bermain fisik atau menghabiskan waktu dengan main HP dan laptop. Merasa nyaman begadang dan bangun siang. Merasa nyaman dengan sekolah yang longgar dan sebentar. Merasa nyaman selalu bisa mencari jawaban di mesin pencari saat ulangan. Merasa nyaman memiliki alasan tidak ada kuota atau gangguan jaringan. Dan seterusnya.

Fakta tentang guru (upaya-upaya hebatnya):

Merasa lelah menyiapkan PJJ. Banyak juga yang merasa asyik. Mencari upah tambahan sebagai penghasilan sampingan. Merasa ngos-ngosan mencari perhatian murid saat mengajar. Sibuk mengejar-ngejar tugas yang belum selesai. Sibuk mendengarkan komplain orangtua murid. Bingung dengan hasil belajar murid. Pelajaran tertentu, hampir semua siswa meraih nilai sempurna. Bingung jika ada yang belum tuntas. Sampai ada yang merasa nyaman dengan gaji penuh meski mengajar “tidak penuh” (ingat, upaya guru beradaptasi sangat sepenuh hari dan sepenuh hati). Dan seterusnya.

Fakta tentang orangtua murid:

Silakan mengisi sendiri jika anda sebagai orangtua.

Semua membutuhkan jeda untuk normalisasi. Belum lagi bagi mereka yang terdampak positif Covid-19. Libur semester ini, tarik napas dalam-dalam dan yakinkan diri bahwa kita semua harus bekerja sama untuk berjuang melewati ini semua, saling dukung dan saling menguatkan.

Semua membutuhkan MOTIVASI.  Ingat, Allah tak sematkan luka tanpa menyertakan bahagia setelahnya.

 Pada akhirnya,

Pertanyaannya, apakah kita masih memandang proses PJJ ini hanyalah kondisi darurat sehingga tidak perlu berubah? Toh, nanti juga balik lagi. Atau

Kita memandang PJJ ini sebagai kesempatan melangkah lebih maju dalam meningkatkan kualitas pendidikan kita?

Lihat Berita Dibawah dan Dapatkan Hadiah Menarik

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel